Jumat, 13 Maret 2009

Potret Buram Senayan

Sahabat / semarak kampanye masih terus berlangsung menunggu saat klimaks menjelang April 2009// Berbagai upaya dilakukan/ untuk memperebutkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan Jakarta// Begitu banyak dana dan energi yang dicurahkan/ namun apa yang terjadi ketika kursi empuk wakil rakyat yang terhormat telah didapat?// Bayangkan/ tingkat kehadiran para wakil rakyat kita ini/ sejak Oktober 2004 hingga Desember 2008/ hanya mencapai 78 %// Ini artinya/ rata-rata sekitar 100 orang anggota dewan/ tidak hadir dalam sidang paripurna// Ini/ belum termasuk dengan kegemaran mereka yang membaca koran/ jalan-jalan berbungkus kunjungan kerja/ atau melakukan aktifitas lain yang tidak berhubungan dengan agenda sidang/ bahkan/ hingga tertidur dengan nyenyak di ruang sidang yang sejuk dan nyaman//

Ironi sahabat / pajak serta retribusi yang dikumpulkan dari tetes demi tetes keringat rakyat/ yang digunakan untuk memberikan dukungan gaji serta tunjangan kepada para wakil rakyat ini/ kini terbukti sia-sia// Bayangkan/ lebih dari 40 juta rupiah uang rakyat mengalir perbulannya/ untuk dapat memberikan fasilitas dan tunjangan kepada para anggota dewan// Bahkan dana tunjangan komunikasi intensif dan dana penyerapan aspirasi masyarakat/ mencapai 660 juta rupiah// Sungguh ini adalah deret angka yang begitu besar/ bagi rakyat yang kini tengah dirundung cobaan// Peluh-peluh rakyat kecil dalam setiap sen pendapatan negara pun/ menguap bersama udara sejuk yang menerpa kursi-kursi kosong di gedung MPR/DPR di senayan//

Sahabat / Sikap dan tindakan anggota dewan tersebut/ tentu melanggar peraturan Kode Etik Dewan yang mereka buat sendiri// Ketentuan dalam rapat DPR RI yang tertuang dalam Pasal 6 Bab IV menyatakan/ Anggota harus mengutamakan tugasnya/ dengan cara menghadiri secara fisik setiap rapat yang menjadi kewajibannya// Selain itu/ ketidakhadiran anggota secara fisik sebanyak tiga kali berturut-turut dalam rapat sejenis dan tanpa ijin dari Pimpinan Fraksi/ merupakan suatu pelanggaran kode etik// Lantas/ bagaimana DPR dapat menjalankan fungsi legislasi/ anggaran/ dan fungsi pengawasan dengan baik?/ jika rata-rata hampir 20% anggotanya/ bolos dari tanggung jawabnya untuk menghadiri rapat/ untuk kepentingan ”rakyat Indonesia”?//

Sahabat / meskipun pengumuman anggota legislatif yang suka membolos mendapat dukungan Ketua DPR –Agung Laksono/ namun untuk dapat melakukan hal tersebut/ pimpinan DPR harus mendapatkan lampu hijau dari Dewan Kehormatan/ serta seluruh Fraksi DPR// Padahal/ hampir seluruh fraksi di senayan/ melakukan “korupsi waktu” yang sama// Empat Fraksi yang menyatakan dukungan yaitu PPP/ PKS/ Demokrat dan PKB/ pasti akan menghadapi tantangan yang cukup berat// Apalagi/ PDIP dengan lantang menyatakan menolak usulan ini/ dengan alasan anggota dewan bukanlah karyawan// Para anggota dewan/ juga memiliki segenap aktifitas lain di luar/ termasuk untuk mengunjungi konstituen mereka// Dengan dalih inilah/ mereka menganggap ketidakhadiran mereka dalam sidang dan rapat karena jadwal bentrok/ adalah satu hal yang lumrah//

Sahabat / perjalan menuju pengumuman daftar para wakil rakyat yang hobby membolos/ nampaknya memang akan panjang dan berliku// Apalagi/ bila tidak ada ketegasan dari mereka yang berwenang// Maklum/ Badan Kehormatan mengaku tidak dapat berbuat banyak/ karena penindakan baru akan dilakukan/ jika ada keluhan dan laporan dari masyarakat// Belum lagi/ jarang atau bahkan memang tidak ada/ partai politik yang memberikan sanksi/ kepada para kadernya yang sering mangkir dari kewajiban meraka// Bilakah mereka menjadi jera/ bila “kenakalan-kenakalan” tersebut/ hanya menjadi catatan dalam secarik kertas tanpa sebuah sanksi yang tegas?// Karena tanpa sanksi yang tegas/ pengumuman nama-nama anggota dewan ini pun/ tak akan membawa banyak perubahan//

Sahabat / Sesungguhnya dimumkannya “rapor membolos wakil rakyat” ini/ dapat menjadi catatan bagi rakyat/ untuk menentukan pilihan pada pemilu 2009 mendatang// Berharap/ mereka yang telah terbukti gagal menjalankan amanah mereka sebagai wali rakyat/ akan terdepak jauh dari daftar pilihan// Jadi sahabat / siapakah wakil rakyat yang layak untuk menyampaikan aspirasinya untuk lima tahun kedepan?// Jawabannya/ semua bergantung pada kita// Karena kini/ di tangan kitalah/ melalui pemilu mendatang/ masa depan bangsa ini berada// Akankah kita terjatuh pada lubang yang sama/ dengan memilih legislator yang gemar membolos?// Wallahu’alam Bishowab///

Tidak ada komentar:

Posting Komentar