Selasa, 17 Maret 2009

Menakar kesungguhan berkoalisi

Sahabat / 24 hari menjelang pemilihan umum anggota legislatif/ iklim perpolitik Indonesia semakin menghangat dengan berbagai kunjungan dan silaturahmi antar tokoh dan partai politik// Salah satu penyebab hal tersebut adalah keputusan Mahkamah Konstitusi/ yang mengharuskan capres di dukung oleh minimal suara 25 persen suara nasional atau 20 persen kursi parlemen// Hal tersebut memunculkan kegelisahan tersendiri/ bahkan kegeliasan tersebut melanda partai-partai besar seperti PDIP/ Golkar/ dan Demokrat// Untuk mencapai syarat capres tersebut/ para tokoh partai gencar melakukan pendekatan/ sehingga semakin menguatkan wacana koalisi//

Wacana koalisi tersebut memunculkan berbagai blok capres/ mulai dari blok S kubu SBY/ blok M kubu Megawati/ blok J kubu Jusuf Kalla/ hingga blok alternatif yang diinisiasi oleh tokoh PAN –Amien Rais// Padahal masing-masing partai telah menetapkan bahwa penentuan koalisi dan calon presiden/capres menunggu hasil pemilihan anggota legislatif 9 April mendatang//

Sahabat / sistem pemerintahan presidensil dan multipartai/ menimbulkan keniscayaan sebuah koalisi// Koalisi dibutuhkan untuk menciptakan pemerintahan yang efektif/ yang mempunyai kekuatan politik selama paling tidak lima tahun dalam periode pemerintahan// Sebab untuk mempertahankan stabilitas politik dibutuhkan dukungan parlemen yang signifikan/ supaya langkah-langkah yang diambil pemerintahan dapat berjalan//

Namun/ koalisi tanpa sebuah dasar yang kuat/ yang terjadi hanya pembagian kekuasaan layaknya politik dagang sapi// Habis manis sepah dibuang// Ketika manis berkoalisi habis/ masing-masing hanya bermanis mulut tetap bersahabat meskipun realitanya gejolak terus terjadi// Jadi koalisi dan wacana koalisi yang ada saat ini masih pada dataran koalisi ad hoc/ yang mengarah pada kepentingan jangka pendek/ pemenangan pemilu/ dan pemerintahan// Belum pada koalisi strategis yang bertujuan menciptakan pemerintahan yang efektif/ guna mensejahterakan rakyat/ hanya ambisi kekuasaaan masing-masing partai politik dan tokoh-tokohnya//

Sahabat / sesunguhnya berbagai pertemuan yang terjadi diantara para elit politik tersebut hanyalah sebuah penjajakan koalisi/ bukan koalisi// Jika partai poltik memang menginginkan koalisi strategis/ maka koalisi haruslah dibangun dari sinergisitas visi misi maupun ideologi guna mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang adil makmur// Namun/ dapatkan partai politik beserta elit politiknya mau mengalahkan egonya guna kepentingan bangsa yang lebih besar dengan koalisi strategis untuk rakyat?// Wallhua’lam Bishowab///

Jumat, 13 Maret 2009

Maulid nabi, tak sekedar seremonial semata

Sahabat / hampir setiap tahun umat muslim di Indonesia memperingati kelahiran Rasullah Muhammad saw// Bahkan peringatan milad tersebut/ hanya dilakukan di Indonesia/ namun tidak di negeri tempat kelahiran baginda Rasullah// Berbagai perhelatan diselenggarakan dengan semarak mulai dari level komunitas kecil di pedesaan hingga perhelatan nasional yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah// Hampir tidak pernah tertinggal/pelaksanaan tradisi membaca shalawat “Barjanji’ yang berisi puji-pujian dan sejarah hidup Sang Rasullah junjungan// Atau bahkan berbagai agenda “modern” dengan judul refleksi kehidupan Rasullah sang pemimpin teladan//

Namun sayang sahabat / umat cenderung terjebak dalam seremonial simbolik/ bahkan cenderung berlebihan hingga melupakan esensi dari memperingati lahirnya Sang Pemimpin Besar/ Utusan Allah pengusung perubahan// Dan sungguh ironi/ tidak jarang terjadi penyesatan dalam peringatan maulid dengan pendangkalan aqidah dengan pengkultusan/ bahkan hingga mengarah kepada kesyirikan// Niatan yang mulia terkadang menjadi ternoda/ disebabkan kehilangan orientasi serta esensi dari mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan Rasullah tercinta//

Rasullah sebagai manusia biasa utusan Allah/ lahir dengan membawa harapan baru// Bangkit dari keterpurukan penghambaan terhadap nafsu menuju kehidupan yang berkeadilan/ kesetaraan dan demokratis dengan hanya menghambakan diri pada Allah Yang Maha Esa// Setiap perilakunya adalah ibarat Al Qur’an yang hidup/ sehingga dapat menjadi teladan dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kelak//

Sahabat / ditengah keterpurukan bangsa/ serta peluang untuk melakukan perubahan dalam pesta demokrasi terbesar di tanah air// Momentum maulid nabi sangatlah tepat menjadi titik tolak dan refleksi bagi setiap individ dan bangsa// Rasullah berhasil menjadi pemimpin agama/ negara/ dan rumah tangga// Memulai risalah kenabian dengan langkah awal memperbaiki akhlak// Beliau membangun peradaban yang menjadikannya pemimpin teratas dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia dan pasti pemberi safaat di akhirat kelak//

Rasullah sebagai seorang pemimpin/ mengawali sebuah perubahan besar dari dalam diri sendiri dengan keteladanan dalam lingkup kepemimpinan terkecil dalam rumah tangga// Kegigihan/ semangat/ serta jiwa muda dalam berjuang yang muncul dari tempaan waktu dan kondisi gurun pasir yang ganas serta masyarakat yang jahiliyah// Seiya sekata dalam perkataan dan perbuatan//

Sahabat / setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawaban// Dan setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri// Rasullah telah mengajarkan kunci kepemimpinan adalah keteladanan dari lingkungan terdekat hingga masyarakat luas// Rasullah hadir tidak hanya menjadi rahmat bagi umatnya yang beriman/ namun juga seluruh manusia dan seluruh mahkluk penghuni alam semesta// Lantas cukupkah kekaguman kita hanya berakhir pada sebuah seremonial/ tanpa sebuah upaya mentranformasi dalam kehidupan nyata?//

Sahabat / sebagai umat yang beriman/ kita telah mengakui Muhammad saw/ sebagai utusan Allah dan teladan kita// Namun sudahkah kita meneledani semangat/ kepemimpinan/ akhlak serta kegigihan berkarya dengan tetap memurnikan keikhlasan karena Allah?// Dapakah kita bersinergi dalam memperbaiki dan membangun umat menuju Islam sebagai rahmat bagi semesta alam?//Atau hanya berebut kekuasaan dan kenikmatan dunia yang fana ini?// Akankah kejayaan Islam yang kita harapkan hadir/ jika maulid nabi hanya tengelam dalam seremonial semata?// Wallahua’alam Bishowab///

Edisi, Senin 9 Maret 2009

Pemilu sudah dekat,Nagabonar jadi Capres

Sahabat / panggung politik Indonesia semakin semarak// Pada akhir Februari lalu aktor senior Dedy Mizwar atau yang lebih dikenal dengan “Jendral Nagabonar” mendeklarasikan diri sebagai Calon Presiden/Capres// Jendral Nagabonar seakan bangkit dari panggung hiburan menuju pangung politik// Berawal dari sebuah kepedulian dan semangat perubahan/ Dedy Mizwar membulatkan tekad menjadi “Jendral” sesungguhnya dalam dunia nyata/ menjadi orang nomor satu di negeri ini//

Ronald Reagen seorang selebritis pun berhasil menjadi presiden negeri adidaya Amerika Serikat// Bahkan lebih dekat di Indonesia/ sedikit demi sedikit para selebritis berhasil beralih panggung dari panggung hiburan menuju panggung politik// Dari mulai walikota Tangerang yang berhasil diraih oleh Rano Karno/ atau lebih dikenal sebagai tokoh ideal “Si Doel”// Bahkan hingga tingkat provinsi pun Dede Yusuf/ yang pada tahun 80-an dan 90-an tercitrakan sebagai seorang yang alim/penolong dan baik hati berhasil memperoleh kursi nomor 2 di Jawa Barat// Selebritis menjadi para pencari kursi kekuasaan//

Sahabat / Pemilu sudah dekat/ namun Dedy Mizwar baru saja mengumumkan tekadnya menjadi Presiden// Seakan terinspirasi dari hitungan sederhana proklamasi kemerdekan Indoensia dilakukan dalam dua hari oleh Founding Father Indonesia -Soekarno// Dengan menjual popularitas dan citra positif dalam dunia hiburan/ mungkin bukan hal yang sulit untuk meraih dukungan dalam memenangkan pilpres 2009?// Namun dapatkah Sang Jendral mendapatkan tiket menuju Indonesia satu dengan di dukungan 10 partai?// Padahal/ bukan hal yang mudah untuk mencapai dukungan 20 persen suara di parlemen atau 25 persen secara nasional// Tidak hanya membutuhkan popularitas/ tetapi juga kapabilitas//

Memenangkan pemilu ataupun menduduki jabatan Kursi nomor satu Indonesia/ mungkin bukan hal yang sulit bagi seorang selebritis dengan citra positif// Namun sanggupkah/ Sang Jendral Nagabonar memenangkan pertempuran yang sesungguhnya dengan memimpin negara Indonesia pasca pemilihan presiden?// Atau hanya akan menimbulkan korban dan harus menangis serta muncul pernyataan “sudah ku bilang jangan bertempur/ bertempur pula kalahlah kau”//

Sahabat / tentu kita sadari/ memilih presiden sangat berbeda dengan sekedar memilih makanan// Bukan sekedar mencoba-coba/ mau politisi /aktifis ataupun selebiritis// Negara ini bukan untuk sebuah pangung sandiwara/ dapat saja mencoba-coba memilih capres selebritis namun berakhir dengan miris?// Memang dimana ada kemauan disana ada jalan/ dan banyak jalan menuju Indonesia satu// Akankah Indonsia yang sedang miris bahkan tragis ini/ dipimpin oleh seoarng selebritis?// Wallahua’lam Bishowab///


Edisi Senin, 2 Maret 2009

Pemilih pemula sasaran empuk parpol

Sahabat / Menjadikan para pemilih pemula sebagai pendulang suara terbanyak merupakan strategi pemenangan Pemilu yang dilakukan oleh partai-partai besar// Partai-partai yang sangat fokus untuk menjadikan pemilih pemula sebagai target empuk untuk dipengaruhi antara lain/ Partai Keadilan Sejahtera/ Partai Persatuan Bangsa/ Golkar/ Partai Gerindra/ PDI Perjuangan/ serta Partai HANURA// Tidak salah memang menjadikan pemilih pemula sebagai objek pemilu/ tetapi yang perlu diwaspadai adalah cara para parpol dalam segi memanfaatkan pemilih pemula sebagai pintu kemenangan//

Dalam undang-undang pemilihan umum/ pemilih pemula adalah mereka yang telah berusia 17-21 tahun/ yang telah memiliki hak suara dalam pemilu// Pemilih pemula yang baru memasuki usia hak pilih pastilah belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menentukan ke mana mereka harus memilih// Namun Sahabat / tinggal beberapa bulan lagi pemilihan Umum dilaksanakan/ ternyata sosialisasi Pemilu yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum kepada para pemilih pemula masih sangat lambat bahkan belum merata//

Selain itu sahabat / Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat –Jeirry Sumampouw mengatakan/ hingga kini rencana Komisi Pemilihan Umum mensosialisasikan Pemilu 2009 bagi pemilih pemula hingga ke Sekolah belum terlaksana// Jika sosialisasi pemilu tidak maksimal/ maka di satu sisi para pemilih pemula akan merasa diasingkan serta kurang pemahaman mengenai arti penting memilih/ sehingga mereka memutuskan untuk golput// Di sisi yang lain para pemilih pemula akan dimobilisasi peserta pemilu dalam kampanye massal/ akibatnya pilihan mereka tidak berdasarkan kesadaran politik yang dalam// Yang mana nantinya lagi-lagi para pemilih pemula menjadi sasaran empuk eksploitasi Politik//

Sahabat / Pemilu merupakan pesta Demonstrasi/ pesta semua rakyat menuju bangsa yang lebih baik// Sehingga perlu suatu metode yang tepat untuk mewujudkan demonstrasi yang sebenar-benarnya// Salah satunya yaitu dengan meminimalisir adanya golput dan juga eksploitasi politik yang terjadi di kalangan pemilih pemula// Karena walau bagaimanapun/ pemilih pemula adalah tulang punggung bangsa/ penerus bangsa yang harus di didik/ bukannya diracuni dengan berbagai iming-iming kampanye partai yang mengedepankan hawa nafsu/ untuk menduduki kursi di parlemen// Kalau hal tersebut sampai terjadi/ mau dikemanakan bangsa ini kelak dengan generasi mudanya yang sudah terkontaminasi oleh kotornya politik//

Dengan demikian sahabat / menjelang Pemilu 2009/ edukasi dan sosialisasi yang diarahkan kepada pemilih pemula sangat penting dilakukan/ selain dalam rangka pendidikan politik sejak dini/ melainkan juga sebagai upaya meningkatkan partisipasi pemilih// Oleh sebab itu/ KPU beserta instansi yang terkait haruslah lebih peduli dan memerhatikan aspirasi para pemilih pemula sehingga mereka dapat benar-benar menjadikan Pemilu sebagai proses pembelajaran untuk berdemokrasi dalam menentukan nasib bangsa yang lebih baik dengan mimiluh para calon legislative dan partai politik yang benar-benar dapat membawa Indonesia kepada bangsa yang makmur/ adil dan sejahtera/ tidak menjadikan bansa Indonesia lebih buruk lagi// Wallahu’alam Bishowab///


Edisi Sabtu, 14 Februari 2009

Industrialisasi Politik Indonesia

Sahabat / pemilu layaknya pesta demokrasi bagi seluruh rakyat Indonesia/ berimbas dalam berbagai sendi kehidupan// Politik sebagai unsur utama dalam pesta demokrasi tersebut telah mengalami perkembangan menjadi sebuah industri// Sebuah industri yang menarik hampir bagi semua lapisan masyarakat tanpa membedakan kelas ekonomi dan strata pendidikan// Pemilu dan politik menjadi obrolan renyah hampir di setiap sudut pelosok negeri// Bahkan tidak hanya menjadi penonton/ atau pengamat politik “dadakan”/ seorang pedagang kaki lima pun/ mencoba mengadu nasib menjadi wakil rakyat/ bersaing dengan para elit politik dan artis//

Layakanya industri pada umum/ industrialisasi politik tentu membutuhkan sumber daya serta strategi pemasaran// Berusaha dengan sumber daya yang ada bahkan minim/ berjuang meraih keuntungan yang optimal// Berbagai upaya dilakukan dalam memasarkan “produk-produk”/ caleg sebagai komiditi/ berjuang keras meraih simpati dan dukungan rakyat// Dari mulai stiker kecil yang bertebaran hingga bendera raksasa dan baliho ekstra besar menjamur ibarat cendawan di musim penghujan// Bahkan tidak jarang hanya sekedar sampah visual/ tanpa isi yang berkorelasi dengan aspirasi rakyat// Hanya popularitas semata/ tanpa esensi sebuah visi dan solusi penyalur aspirasi penderitaan rakyat// Perjuangan menuju popularitas guna meraih tujuan kursi wakil rakyat//

Sahabat / tidak cukup dengan media cetak/ upaya memasarkan komoditi politik melibat media elektronik yang menelan dana tidak sedikit// Namun tidak semua mampu mengapai hal tersebut/ sehingga berinovasi dan improvisasi dengan kampanye door to door// Apa pun dilakukan/ dan dikorbankan demi sebuah ambisi kursi anggota dewan// Partai politik laksana corporasi bisnis/ berusaha meraih kursi demi sebuah kekuasaan// Bahkan tidak jarang/ para caleg hanya menjadi “sapi perahan” penyokong mesin partai//Bahkan ketika telah menjadi anggota legislatif/ harus membayar hutang budi dengan materi yang tidak sedikit// Jadi korupsi seakan menjadi setan yang senantiasa merayu para elit politik dalam setiap langkahnya//

Sahabat /Politik layaknya sebuah sarana mencapai tujuan/ tidak jarang terkotori oleh ambisi dan nafsu duniawi pembawa sengsara// Namun ibarat sebuah senjata/ politik dapat menjadi pembela kebenaran atau bahkan pendukung kebatilan// Tergantung siapa orang di balik senjata?//Akankah politik menjadi sebuah industri pengahuncur umat/ atau bahkan penyelamat umat seperti yang didambahkan?//Wallahu’alam Bishowab///

Edisi, Senin 23 Februari 2009

Berjudi dengan nasib, berharap sebuah keajaiban

Sahabat / publik dunia kesehatan di Indonesia digemparkan dengan fenomena pengobatan oleh “Sang Bocah Sakti” Muhammad Ponari// Hanya dengan mencelupkan tangan mungilnya dengan menggenggam batu petir ke dalam air/ banyak masyarakat yang sangat percaya air tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit// Bahkan masyarakat yang percaya rela berdesak-desakan mengantri/ bahkan kejadian tersebut hingga menimbulkan empat orang meregang nyawa//

Pengobatan supranatural/ sebuah fenomena diluar batas rasionalitas/ yang tetap menjadi realitas kehidupan masyarakat Indonesia// Pengobatan supranatural masih menjadi sebuah alternatif bagi sebagian masyarakat// Penyakit fisik yang tidak kian sembuh/ dan desakkan faktor ekonomi/ seakan menghilangkan daya nalar masyarakat// Bahkan air sumur ataupun air yang mengalir di sekitar rumah Ponari diangap tetap berkhasiat menyembuhkan penyakit//

Sahabat / sebuah keyakinan yang mendalam dengan iringan sugesti/ memang terkadang mampu memunculkan sebuah “keajaiban”// Namun dimanakah akal sehat/ jika secara kebersihan air batu petir saja masih meragukan/namun tetap dipercaya berkhasiat// Keputusasaan terhadap sebuah kenyataan derita yang berkepanjangan/ akibat penyakit yang kunjungan sembuh/ dan faktor ekonomi yang semakin menghimpit kehidupan// Lantas/ salahkah jika masyarakat mencari sebuah alternative yang relatif murah/ pengobatan supranatural/ berjudi dengan nasib berharap sebuah keajaiban//

Namun sabahat / yang menjadi pertanyaan kini adalah/ dapatkah masyarakat miskin menikmati pengobatan medis yang layak/ sehingga mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan medis// Ataukah memang pemerintah telah gagal/ mewujudkan layanan sosial khususnya kesehatan bagi rakyat miskin//

Pelayanan kesehatan seakan menjadi barang mahal/ ketika hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu mengaksesnya// Bahkan kondisi tersebut diperparah/ dengan aksi para selebriti dan tokoh yang kerap kali berobat keluar negeri//Hal tersebut seakan semakin membuktikan pengobatan adalah barang mahal/ dan pengobatan dalam negeri tidak becus mengatasi masalah medis yang kian kritis// Lantas kapankah rakyat miskin dapat menikmati pelayanan medis yang layak/ atau memang harus cukup puas dengan berjudi dengan nasib/ mengharap keajaiban pengobatan supranatural// Wallahu’alam Bishowab///

Edisi Senin, 16 Februari 2009




Genjatan senjata, diplomasi munafik yahudi

Sahabat / setelah 22 hari Israel laknatullah menggempur wilayah Gaza/ dan menimbulkan korban lebih dari 1200 orang meninggal di pihak Palestina/ dan hanya 14 orang dari pihak Israel/ akhirnya Perdana Menteri Ehud Olmert mengumumkan genjatan senjata sepihak// Olmert menyatakan/ tujuan pihaknya telah tercapai/ sebab Hamas secara militer dan dari segi prasananya sangat terpukul// Namun/ Olmert menjelaskan/ keberhasilan gencatan senjata tersebut tergantung pada Hamas// Jika kaum militan masih melanjutkan serangan roket-roketnya ke Israel/pihaknya akan membalasnya dengan kekerasan// Sebuah bentuk lain/ dari kemunafikan bangsa yahudi/ sebab merekalah yang sejak awal menyulut pertumpahan darah//

Ya hanya bahasa kekerasan yang Israel pahami/ bagaimana tidak beberapa jam setelah menyatakan gencatan senjata// Seorang pemuda Palestina berusia 20 tahun ditembak tepat di dadanya/ ketika sedang melakukan perjalanan dengan naik kendaraan di dekat kota kecil Khan Yunis/ dekat perbatasan jalur Gaza dengan Israel// Bahkan sebuah bukti lagi/ bahwa zionis terlaknat tersebut tidak akan berhenti melakukan kekerasan/ adalah dengan ditemukannya 95 jenazah warga sipil Palestina ditengah reruntuhan bangunan di jalur Gaza//

Sahabat / gencatan senjata hanya sebuah diplomasi munafik kaum zionis// Setelah meluluh lantakan bumi para nabi/ ribuan penduduk dunia melakukan aksi kecaman terhadap tindakan genosida terhadap bangsa Palestina// Bahkan beberapa Negara dengan tegas memutuskan hubungan diplomatik dan mengusir duta besar Israel// Tekanan semakin kuat ketika/ PBB mengeluarkan resolusi nomor 1860/ yang menyebabkan kacung setianya Amerika Serikat/ hanya mampu diam seribu bahasa menanggapi kerasnya kecaman negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB// Padahal sebelumnya AS selalu berhasil menggunakan hak vetonya/ sebagai bukti standar ganda negara adikuasa/ yang mendeklarasikan sebagai polisi dunia//

Sahabat / entah sudah berapa banyak janji-janji perdamaian semu penuh lipstick/ yang ditawarkan Israel laknatullah// Namun tetap saja yang berbicara adalah/ bahasa kekerasan dengan moncong senjata yang mengarah ke dada anak-anak kecil bertelanjang dada dengan batu ditangan/ dan sebuah keyakinan pertolongan Allah akan datang// Jika Yahudi terlaknat hanya memahami bahasa kekerasan/ maka semoga setiap tetes darah para syuhada yang membasahi bumi Palestina/ akan memunculkan syuhada setangguh Shalahudin Al Ayubi yang akan merebut kembali kemerdekaan Palestina// Amin../ Amin../ Ya Robbal Alamin///

Edisi Senin, 19 Januari 2009