Jumat, 13 Maret 2009

Maulid nabi, tak sekedar seremonial semata

Sahabat / hampir setiap tahun umat muslim di Indonesia memperingati kelahiran Rasullah Muhammad saw// Bahkan peringatan milad tersebut/ hanya dilakukan di Indonesia/ namun tidak di negeri tempat kelahiran baginda Rasullah// Berbagai perhelatan diselenggarakan dengan semarak mulai dari level komunitas kecil di pedesaan hingga perhelatan nasional yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah// Hampir tidak pernah tertinggal/pelaksanaan tradisi membaca shalawat “Barjanji’ yang berisi puji-pujian dan sejarah hidup Sang Rasullah junjungan// Atau bahkan berbagai agenda “modern” dengan judul refleksi kehidupan Rasullah sang pemimpin teladan//

Namun sayang sahabat / umat cenderung terjebak dalam seremonial simbolik/ bahkan cenderung berlebihan hingga melupakan esensi dari memperingati lahirnya Sang Pemimpin Besar/ Utusan Allah pengusung perubahan// Dan sungguh ironi/ tidak jarang terjadi penyesatan dalam peringatan maulid dengan pendangkalan aqidah dengan pengkultusan/ bahkan hingga mengarah kepada kesyirikan// Niatan yang mulia terkadang menjadi ternoda/ disebabkan kehilangan orientasi serta esensi dari mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan Rasullah tercinta//

Rasullah sebagai manusia biasa utusan Allah/ lahir dengan membawa harapan baru// Bangkit dari keterpurukan penghambaan terhadap nafsu menuju kehidupan yang berkeadilan/ kesetaraan dan demokratis dengan hanya menghambakan diri pada Allah Yang Maha Esa// Setiap perilakunya adalah ibarat Al Qur’an yang hidup/ sehingga dapat menjadi teladan dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kelak//

Sahabat / ditengah keterpurukan bangsa/ serta peluang untuk melakukan perubahan dalam pesta demokrasi terbesar di tanah air// Momentum maulid nabi sangatlah tepat menjadi titik tolak dan refleksi bagi setiap individ dan bangsa// Rasullah berhasil menjadi pemimpin agama/ negara/ dan rumah tangga// Memulai risalah kenabian dengan langkah awal memperbaiki akhlak// Beliau membangun peradaban yang menjadikannya pemimpin teratas dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia dan pasti pemberi safaat di akhirat kelak//

Rasullah sebagai seorang pemimpin/ mengawali sebuah perubahan besar dari dalam diri sendiri dengan keteladanan dalam lingkup kepemimpinan terkecil dalam rumah tangga// Kegigihan/ semangat/ serta jiwa muda dalam berjuang yang muncul dari tempaan waktu dan kondisi gurun pasir yang ganas serta masyarakat yang jahiliyah// Seiya sekata dalam perkataan dan perbuatan//

Sahabat / setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawaban// Dan setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri// Rasullah telah mengajarkan kunci kepemimpinan adalah keteladanan dari lingkungan terdekat hingga masyarakat luas// Rasullah hadir tidak hanya menjadi rahmat bagi umatnya yang beriman/ namun juga seluruh manusia dan seluruh mahkluk penghuni alam semesta// Lantas cukupkah kekaguman kita hanya berakhir pada sebuah seremonial/ tanpa sebuah upaya mentranformasi dalam kehidupan nyata?//

Sahabat / sebagai umat yang beriman/ kita telah mengakui Muhammad saw/ sebagai utusan Allah dan teladan kita// Namun sudahkah kita meneledani semangat/ kepemimpinan/ akhlak serta kegigihan berkarya dengan tetap memurnikan keikhlasan karena Allah?// Dapakah kita bersinergi dalam memperbaiki dan membangun umat menuju Islam sebagai rahmat bagi semesta alam?//Atau hanya berebut kekuasaan dan kenikmatan dunia yang fana ini?// Akankah kejayaan Islam yang kita harapkan hadir/ jika maulid nabi hanya tengelam dalam seremonial semata?// Wallahua’alam Bishowab///

Edisi, Senin 9 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar