Jumat, 13 Maret 2009

Film Vulgar dan Perang Pemikiran

Sahabat / industri perfilman Indonesia sedang berkembang/ terlihat dari membanjirnya film –film dalam negeri// Namun ada sebuah fenoma yang sedikit membuat gerah sebagaian orang/ yakni dengan maraknya film-film yang mengeksploitasi seks// Bahkan sepanjang tahun 2008 muncul film dengan judul-judul “vulgar” seperti Mas Uka Ms Ukin/ Xtra Large/ MBA atau Married By Accident/ hingga Anda Puas Saya Loyo// Bumbu-bumbu seks di gunakan untuk menarik perhatian pasar penonton bioskop//

Sebuah gejala yang memprihatinkan sahabat / film-film dengn judul serta cerita berbau eksplotasi seks pernah marak di era tahun 80// Ketika itu pemerintah represif terhadap segala hal/ termasuk dalam dunia perfilman// Pemilik modal menjadi penentu arah film akan mengalir kemana/ secara bisnis tentunya pemilik modal menginginkan keuntungan dengan film yang laku// Namun sayang parameter film laku tidak jelas// Ketika marak film hantu/ amak beramai-ramai membuat film hantu/ dan ketika film berbau seks marak maka beramai membuat film seks//

Sahabat / gejala yang sama juga pernah terjadi di dunia perfilman di tahun 90an/ yang pada akhirnya mengakibatkan dunia perfilaman mati suri// Maraknya film dalam negeri yang banyak berbumbu seks/ mengakibatkan kejenuhan dan ketidaknyamanan para penonton/ sehinga penonton beralih ke film luar negeri atau sinetron// Sebuah gejala yang menjadi tanda Tanya besar//

Padahal sahabat / jika hanya mengejar rating/ atau laku/ fakta yang terjadi bahkan berbeda// Film yang di buat dengan baik/ skenario yang baik/ sutradara yang baik/ serta muatan pesan moral/ bahkan menyedot jutaan penontong dan berbagai penghargaan seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi// Meskipun menelan yang besar hingga 7 millyar rupiah seperti Laskar Pelangi/ hasil yang diperoleh pun tidak mengecewakan/ yakni penonton yang mencapai 4,4 juta penonton// Jika dengan hitungan sederhana 4 juta penonoton dengan harga tiket 20 ribu rupiah/ paling tidak sudah menghasilkan 80 millyar rupiah/ atau sekitar 10 kali dari modal awal//

Sahabat / entah hal apa yang menutup mata dan hati para pemilik modal// Atau memang penjajahan secara halus melalui perang pemikiran/ atau ghowzul Fikr/ sudah merambah hingga dunia perfilman// Dunia hiburan khusunya pefilman dijadikan alat propaganda untuk merusak mental dan karakter anak bangsa/ menjadi hamba-hamba syahwat// Terlena oleh gaya hidup hedonis//

Sahabat / kehidupan memang penuh dengan pilihan/ ketakwaan atau kekufuran menjadi pilihan dalam hidup// Sama halnya dalam memilih tontonan/ hanya sebagai sebuah hiburan semata yang mungkin menyesatkan/ atau memilih tontonan dengan pesan moral yang dapat menjadi tuntunan// Benarkah tontonan masyarakat menjadi cerminan budaya suatu bangsa?//Wallahu’alam Bishowab ///

Edisi Kamis, 18 Desember 2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar